Wednesday, June 6, 2012

The Sixth Sense Part 3


“Rea! Pergi bareng, yuk” kata Ivan seperti biasa seakan-akan tidak ada apa-apa yang terjadi semalam.
Aku memakai helm dan duduk di atas motor Ivan dia terus bercerita dengan semangat tentang olimpiade sains yang akan diikutinya hari Minggu nanti dan sangat ingin aku datang untuk melihatnya sampai aku tidak tega mengatakan bahwa hari ini adalah hari terakhirku dengannya. Aku tidak memberitahu hal ini pada siapapun bahkan keluargaku juga tidak tahu.
Hari itu aku berusaha untuk menjalani hari terakhirku dengan normal dan mengatakan sampai besok kepada teman-teman sekelasku seakan-akan besok aku akan tetap datang ke sekolah, turun dari motor Ivan dan mengucapkan selamat pagi seperti yang selalu ku lakukan.
Dan di detik-detik terakhirku aku benar-benar melindungi orang yang paling ku sayangi di dunia ini dengan semua kekuatan yang kumiliki.
Saat kami berjalan ke arah parkiran motor yang berada di seberang sekolah tiba-tiba ada sebuah truk yang melaju dengan kencang, dengan cepat aku mendorong Ivan ke parkiran yang berjarak beberapa langkah dari kami dan membiarkan diriku sendiri tertabrak oleh truk itu. Dan setelah itu aku sempat melihat tubuhku sendiri yang berlumuran darah sebelum akhirnya benar-benar pergi untuk selamanya.
***
Aku yakin di pemakaman Astrea kemarin aku yang paling kalem tapi mereka tidak tahu kalau akulah yang paling banyak mengeluarkan air mata, tapi aku yakin ibunya juga mengeluarkan air mata yang sama banyaknya, apalagi karena Astrea adalah anak tunggal, sejak kemarin saat aku berusaha untuk menolongnya meskipun aku tahu detik itu saat truk itu membuat tubuhnya terpental sejauh 5 meter saat itu juga dia pergi untuk selamanya. Aku juga yakin ini alasan kenapa dia menolakku malam itu dan aku menjadi sangat yakin saat aku membaca buku hariannya yang di berikan oleh ibunya kemarin. Di lembar terakhir itu dia menulis tentang pengakuanku malam itu, alasan penolakannya, dan juga tentang hari terakhirnya yang sudah dia ketahui sejak lama. Aku juga membaca tentang perasaannya yang sebenarnya dan menyadari halaman itu lembab karena air mata yang pastinya bukan hanya setetes. Dan tentu saja hari ini sepulang sekolah aku akan pergi ke makamnya untuk protes soal ini dan dia harus bersiap-siap karena protes ini akan panjang.
- END -

The Sixth Sense Part 2


“Rea! Astrea! Dengar nggak, sih? Dari tadi di panggil nggak nengok-nengok” teriak Ivan sambil berusaha untuk mengejarku.
“Apaan, sih? Kalau soal pulang bareng hari ini nggak bisa, kamu pulang sama yang lain aja, aku hari ini ada urusan” kataku sambil terus berjalan ke arah mobil jemputanku.
“Hari ini juga? Ini udah seminggu, lho. Jangan-jangan kamu habis lihat sesuatu tapi nggak bilang sama aku”
“Iya, aku emang lihat kalau hari ini ada 2 orang yang udah mau nembak kamu tapi nggak jadi karena kamu ngejar aku ke sini. Udah, ya. Aku pulang duluan” aku masuk ke mobil dan langsung pulang.
Selama seminggu terakhir ini aku memang minta untuk di jemput saat pulang, sebelumnya hampir setiap hari aku naik motor sama Ivan. Alhasil sekarang banyak cewek-cewek yang ngantri pengen di antar pulang sama Ivan.
Aku memang benar-benar melihat sesuatu. Kali ini aku melihat Ivan yang terkena kecelakaan jika dia bersamaku selama seminggu ini makanya aku menghindarinya. Ada untungnya juga punya kekuatan seperti ini, setidaknya aku bisa melindungi orang-orang yang penting untukku.
Sore itu Ivan datang dengan adiknya yang bernama Sherry. Dia mengantarkan oleh-oleh titipan orang tuanya yang baru pulang dari dinas di luar kota. Setelah urusannya selesai dan dengan sedikit basa basi Sherry memutuskan untuk pamit, tapi Ivan tetap tinggal dan langsung menarikku ke beranda kamarku untuk mengintrogasi.
“Kamu kenapa, sih? Kayaknya selama seminggu terakhir ini kamu menghindar dari aku. Kenapa? Ada masalah?”
Awalnya aku diam saja tapi karena Ivan terus memaksa akhirnya aku mengatakan semua yang ingin dia ketahui. Dan tentu saja dia marah karena itu.
“Cuma karena  aku sampai kamu menghindar? Kamu nggak tau gimana perasaan aku selama seminggu terakhir karena kamu nggak ada.”
“Tapi, kan kamu punya banyak teman yang lain, cewek yang ngabtri mau jadi pacar kamu juga banyak. Nggak mungkin kamu terikat sama aku selamanya, kan?” kataku datar.
“Nggak bisa, kamu udah lupa? Dulu aku bersumpah bakal ngejagain kamu nggak peduli apa kata orang. It’s always been you, you know that, right?” katanya dengan muka yang terlihat (sok) serius.
“Iya, aku tau. Tapi kalau itu berarti membahayakan diri kamu sendiri lebih baik nggak usah, aku nggak mau apa-apa terjadi sama aku soalnya aku....”  aku menghentikan kata-kataku dan mulai merasakan seluruh tubuhku menjadi panas.
“Kenapa? Kamu mau bilang sesuatu? Aku nggak punya kekuatan buat baca pikiran kamu, tapi nggak tau kenapa aku tau apa kelanjutan kata-katamu tadi. Perlu aku lanjutin sekarang?” dan kali ini wajahnya benar-benar menjadi serius. Dan sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya dia sudah menarik tubuhku dan memelukku.
“Dari awal aku udah merasa kamu itu spesial, bukan karena kelebihanmu tapi ada sesuatu yang lain yang bikin aku tertarik sama kamu. Aku nggak tau ini bener atau nggak tapi aku pikir perasaan kamu juga sama kayak aku” katanya dengan nada yang agak kaku dan terbata-bata. Tapi aku berusaha untuk mengendalikan diriku.
“Iya, kamu ada benarnya, tapi aku nggak bisa, Van” kataku pelan.
“Kenapa? Jangan bilang kamu lihat sesuatu yang jelek lagi soal kita? Nggak usah di peduliin. Apapun yang terjadi aku bakal jagain kamu”
“Seenggaknya kasih aku waktu. Please, aku butuh waktu buat mikir.” Kataku.
“Ya udah, kamu pikirin dulu, ya. Udah malam, aku pulang dulu. Sampai ketemu besok”, lalu dia berjalan keluar dari kamarku.
Setelah yakin dia sudah benar-benar sudah pulang air mataku mengalir sangat deras dan aku yakin ini pertama kalinya seperti ini. Bukan karena aku tidak suka sama dia, aku sangat menyukainya bahkan jauh sebelum bertemu dengannya aku tahu dia orang yang ditakdirkan untukku tapi sayang semuanya semua sudah terlambat. Karena aku sudah tidak bisa melihat apa yang akan terjadi lusa. Besok siang adalah penglihatan terakhirku itu artinya besok adalah hari kematianku.

The Sixth Sense Part 1


Kalian percaya dengan indera ke enam? Aku percaya, aku bahkan memiliki kelebihan spesial itu. Awalnya hanya sesekali aku bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan, tapi seiring aku bertambah dewasa biar sedang dalam keadaan sadar aku bisa melihat apa yang terjadi. Aku bahkan bisa melihat hal paling mengerikan yang akan terjadi pada diriku. Ya, itu adalah hari kematianku sendiri.
Tapi, biarpun aku bisa melihatnya aku tidak tau pasti kapan hari itu akan tiba. Aku hanya melihat apa yang terjadi saat itu di dalam pikiranku seperti sebuah film. Dan sejak kecil aku selalu mengutuk kelebihan spesial ini karena mungkin ini salah satu alasan aku tidak punya teman sama sekali.
“Eh, lihat, tuh. Lagi-lagi si cewek aneh itu sendirian lagi. Kasihan, yah. Hihihi”
“Ya iyalah dia sendirian. Habis dia, kan cewek terkutuk.”
Bisik-bisik seperti itu sudah jadi hal yang biasa, aku memang selalu memisahkan diri dari orang lain karena tidak ingin hal tidak bagus terjadi lagi padaku.
“Rea, sini nggak usah dengerin mereka.”
Aku tau siapa pemilik suara itu. Siapa lagi kalau bukan tetangga sekaligus temanku satu-satunya, Ivan.
“Iya iya, nggak usah kamu ingatkan juga aku nggak bakalan peduliin mereka, tau” kataku cuek.
“Dasar mereka itu. Mereka nggak tau apa-apa soal kamu tapi terus-terusan ngomongin hal-hal jelek soal kamu. Nyebelin banget” kata Ivan kesal.
Karena selalu sama-sama sejak SD, Ivan sudah tau tentang keadaanku biarpun pada awalnya dia juga kurang lebih sama seperti mereka tapi seiring berjalannya waktu dia juga jadi mengerti dengan sendirinya.
“Tapi kamu bisa, ya selama ini kalem menghadapi mereka, kalau aku pasti sudah mengamuk, hahaha” kata Ivan mencoba untuk memujiku untuk kesekian kalinya tentang hal ini.
“Dari dulu kamu selalu bilang yang itu-itu aja, bosan tau” ucapku sambil berjalan meninggalkan Ivan.
Dan saat berjalan melewati koridor menuju kelas aku mendengar bisik-bisik tidak enak itu lagi.
“Ivan kasihan, ya. Dia ganteng, baik, pintar. Tapi, kok mau, ya berteman sama cewek peramal terkutuk itu?” bisik seorang anak kelas XI.
“Iya, tuh, daripada ngurusin dia, mending dia cari teman lain saja.” Timpal yang lain.
Aku tau, karena aku, Ivan juga sering kena dampaknya makanya akhir-akhir ini aku berusaha menghindarinya supaya mereka tidak bicara yang tidak-tidak lagi soal Ivan.

Tuesday, June 5, 2012

June 6 2012

Hari ini tanggal 6 Juni 2012 jam 14:09. Alasan gue nge-post hari ini selain karena tanggalnya bagus gue juga emang ada apa-apa sama tanggal 6 Juni. Tepat hari ini 5 tahun yang lalu bertepatan dengan hari dimana gue mengikuti tes masuk sebuah SMP swasta di kota gue. Gue ingat hari itu gue ikut tes sama 4 orang lain dari SD yang sama dan kebetulan salah satunya adalah love interest gue. Waktu itu gue lagi tes wawancara dan kebetulan giliran gue deketan sama dia so sambil nunggu giliran kita ngobrol di situ bareng sama 1 temennya dia. Nama gue di panggil duluan dan pas gue udah selesai nggak tau setan apa yang masuk ke gue, gue minta sama dia supaya kita nggak usah deket lagi. Dan sekitar setahunan setelah tes itu dan sekaligus setahunan jadi teman sekelasnya dia setiap tanggal 6 Juni gue jadi sering galau nggak karuan, mungkin hari itu emang awal dari kutukan 6 Juni yang gue dapat saat itu. Dan tahun ini, kutukan itu makin menjadi. Hari ini kayaknya puncak kegalauan gue. Soalnya love interest gue saat ini ada kemungkinan bakal nembak love interest dia, dan tinggallah gue disini galau to the max. Orang-orang sekitar (read : classmates gue yang setia :')) masih berusaha menghibur gue and... It work guys thanks yah Tenri,Rahma,Faiz,Nisya,Billy dkk yang udah bikin gue kuat hari ini biarpun sebenarnya sakit banget sumpah hahaha =D. Dan juga teman-teman SD gue yang setia mendengar  curhat gue biarpun diselipkan dengan sindiran yang jlebb banget but thanks Cahya dan Poppy huehuehue ;;). Dan karena hal ini gue nyadar bahwa perhatian itu bakal datang dari orang-orang tak terduga contohnya classmates gue yang biasamya cuek abis tapi hari ini care banget dan sebaliknya ornag yang gue anggap sahabat gue saat ini yang saking hinanya gue nggak tega sebut namanya lebih memilih buat memihak rival gue mungkin karena 2 "sahabat" gue ini adalah classmate dari rival gue. Oh well, life is a roller coaster after all, it has it's own up,down,and sometimes a loop, so we just have to enjoy it until the ride is over. Sorry kalo kebanyakan curhat dan frontal ini, mulai besok gue akan berusaha untuk lebih tegar menaiki roller coaster ini, dan satu pesan gue jangan gampang anggap seseorang sahabat lo bisa aja  mereka yang bakal nusuk lo dari belakang. So that's it, don't be afraid to ride this stupid coaster, keep calm and the ride has ended before you know it :)

Sunday, May 6, 2012

just (another) some stupid short explanation

I'm back. sesuai janji di posting-an sebelumnya gue pengen cerita soal lagu favorit gue bisa dibilang ini semacam review yang kalo dinilai dengan nilai antara 1-5 gue bakal ngasih 4,8 lah. To the point aja berhubung gue cuma punya waktu dikit sebelum berangkat ke petualangan gue yang lain. Basic-nya sih, lagu ini terhitung lagu cinta, tentang 2 orang yang udah lama temenan, mereka sekelas dan ekskul nya sama juga. Habis itu, mereka jadi suka satu sama lain istilah kerennya vice versa. Merasa pernah dengar cerita ini sebelumnya? Ya iyalah, inikan plot cerpen pertama gue. Lanjutin lagi, suatu hari 2 orang ini kabur tengah malem (sinetron amat -_-) abis itu mereka lari sampai ke tempat dimana mereka biasa bareng. Ternyata cek per cek, salah satu dari mereka ngga tau yang cewe atau yang cowo ternyata harus pergi jauh buat ngejar mimpinya. Yang ditinggalin sempat mikir kalau yang ninggalin itu nggak merasa kalau yang ditinggalin itu spesial sampe dia ngarepin ciuman terakhir buat kenang-kenangan tapi dia bilang kalau dia nggak bakal ngelupain hari-hari yang dia lewatin sama pasangannya. Terus yang ditinggalin itu jadi sering nungguin bintang jatuh supaya permohonan dia buat ketemu pasangannya bisa terkabul. Mereka nyadar biar hidup di bawah langit yang sama tapi cerita cinta mereka itu menyakitkan, makanya mereka terus dan terus berharap supaya mereka bisa ketemu lagi dimana pun di dunia ini entah itu hari ini, besok, bulan depan, tahun depan dan seterusnya/
Emang terdengar kaya' dramatis+lebay banget tapi gue suka lagunya, lagu ini kaya' ngena banget ke gue mungkin gara-gara gue selama kurang lebih 2,5 tahun ini ngerasain gimana itu LDR. So, itu aja review gue kali ini, kalo ada lagu lain yang berkesan buat gue mungkin bakal gue post lagi disini. So keep smiling and hoping your wish will come true everyone :)

just some stupid short explanation


orang-orang terutama temen gila gue yang berinisial L dan T pada nanya ada apa antara gue dan Limit gara-gara nama blog sama judul cerpen pertama gue sama-sama ada Limit-nya. ini bukan karena gue tergila-gila sama materi Limit Fungsi salah satu materi aljabar kelas 2 SMA yang susahnya selangit menurut gue tapi kata Limit itu gue ambil dari judul lagu favorit gue. Lagu jepang, sih otomatis orang indonesia langka banget yang tau di makassar mungkin malah cuma gue yang tau. judulnya Ryuusei Limit yang kalo diterjemahin ke bahasa Inggris ya jadinya antara Meteor atau Shooting Star Limit. So? Udah jelas kan kenapa blog gue jadinya gini? Ya udah gue juga udah cape ngejelasin. Sampai sini dulu, buat yang penasaran itu lagu yang kaya' gimana tungguin postingan gue abis ini ntar gue jelasin. Ciao from Dream Land :3
 

Saturday, May 5, 2012

UNTITLED

Suatu hari di suatu siang di bulan Juli, sekitar seminggu sebelum tahun ajaran baru dimulai, tahun itu aku akan menjadi seorang siswi kelas 1 SMA di sebuah sekolah unggulan. Kelamaan melamun, aku malah jatuh tertidur di kursi dan dalam tidurku aku bermimpi tentang masa kecilku yang bahkan membuatku menangis saat terbangun.
Jakarta,  Juni 2006
Aku harus siap-siap, karena besok akan ada kegiatan yang mengharuskan aku untuk menginap di sekolah. Sebenarnya aku malas mengikuti acara ini apalagi harus bergabung dengan anak kelas 5-1. Aku pun meminta pada mama supaya aku tidak perlu mengikuti acara ini tapi...
“Ya sudah, adek nggak usah ikut aja. Tapi itu artinya raport kamu nggak akan mama ambilin. Kan lusa mama nggak ada urusan apa-apa datang ke sekolah selain jemput kamu dari acara itu, terima raport, kan cuma sekalian aja” kata mama ketika aku berusaha untuk membujuknya supaya aku tidak ikut. Akhirnya aku mengalah. Sore itu, aku pergi membeli barang-barang yang kuperlukan dan memasukkannya ke dalam tasku dengan setengah hati.
Keesokan harinya, jam 7.30 pagi aku sudah tiba di sekolah dengan tampang kusut dan langsung di tertawakan oleh sahabt-sahabatku.
“Kamu kenapa lagi, Gin? Masih pagi mukanya udah kusut aja, hahaha” , Nila sahabat terdekatku selama kelas 5 ini yang pertama menanggapi.
“Iya, tau, nih Gina, masa’ mau acara menginap begini mukanya malah kelipat tujuh gitu, senyum dong” Frizka sahabatku yang lain menambahkan.
“Abis acara hari ini sama anak kelas 5-1, sih aku malas gabung sama mereka” kataku dengan muka manyun.
Aku dan teman-temanku yang lain masih sibuk membahas hal lain, lalu...
“Wah, langka, nih. Masih pagi begini udah bisa liat nenek sihir, serem amat mukanya, huahahaha” kata suara lain di belakang kami.
Aku jelas tau suara menyebalkan ditambah ketawa setan itu. Masih pagi bikin kesal saja.
“Argya! Kamu diam aja, deh! Masih pagi udah nyebelin bikin mood tambah jelek aja” kataku marah.
“Apa? Muka kamu jelek? Nyadar, toh? Baguslah, senang aku dengarnya hahaha” kata Argya dengan nada bicara yang menyebalkan.
Seandainya saja aku tidak sadar dimana aku sekarang aku yakin sekarang ranselku sudah melayang ke muka Argya.
Saat berjalan melewati lapangan, aku bertemu “calon” teman-teman baruku saat naik kelas 6 nanti tapi sekarang aku belum tau itu. Ya, mereka adalah anak-anak kelas 5-1.
Acara hari itu berlangsung tidak seburuk pikiranku, aku bahkan sudah berteman dengan beberapa anak kelas 5-1. Tapi yang paling kacau tentu kontak pertamaku dengan Tomi.
Tomi itu bisa dibilang anak yang jahil, kira-kira selevel sama Argya. Hari itu saking sebalnya aku mengejar dia sambil membawa sebuah sapu.
Malamnya setelah semua kegiatan selesai kami bersiap-siap untuk kegiatan favoritku yaitu tidur, hahaha. Yang cowok tidur di ruangan kelas 6-1 dan yang cewek tidur di ruangan kelas 6-2. Malam itu adalah hari terakhir kami bersama Frizka karena saat kelas 6 nanti dia harus ikut ayahnya pindah ke Surabaya.
Tapi menjelang tengah malam aku merasa kurang enak badan. Jadi wali kelasku menelpon mama supaya aku dijemput saja. Akhirnya malam itu aku pulang dan kembali ke sekolah keesokan paginya.
***
Besoknya aku kembali ke sekolah tapi aku sudah tidak sempat bertemu Frizka karena dia harus mempersiapkan diri untuk kepindahannya. Yang kutemui hanya beberapa temanku yang masih dengan muka ngantuk, mungkin karena kurang tidur semalam.
Setelah mendapatkan raport-ku, aku mencari satu orang lain selain Frizka karena sejak tadi aku tidak melihatnya, biasanya dia sudah sibuk sendiri menggangguku. Ya, siapa lagi kalau bukan Argya. Sampai aku pulang dari sekolah aku tidak bertemu dia. Ku pikir aku akan bertemu lagi dengannya saat kami masuk sekolah bulan Juli nanti. Ternyata aku salah. Karena selama apapun aku menunggu, Argya tidak akan pernah masuk ke ruamg kelas 6-2. Selamanya.
***
Juli 2006
Mulai hari ini aku menjadi murid kelas 6, kelas tertinggi di SD aku pun pergi ke sekolah dengan semangat. Yang bikin kurang semangat hanya karena aku sudah tidak bisa lagi sekelas dengan Frizka. Rasanya aku cukup sedih karena tidak bisa bersama sahabatku yang satu itu.
Begitu masuk kelas, aku mencari sosok Mr.Trouble Maker tapi aku tidak menemukannya jadi aku bertanya pada Ari sahabat terdekat Argya.
“Lho? Gina kamu nggak tau? Argya sekarang sudah pindah ke Makassar. Papanya harus pindah tugas kesana. Lagian kan dia memang pindah kota setiap 2 tahun” kata Ari.
Mendengar itu aku sangat kaget, karena biarpun sering bertengkar, aku dan Argya sebetulnya cukup dekat. Hubungan kami memang selalu seperti itu sejak dia pertama pindah kesini saat kami baru naik ke kelas 4. Bertengkar itu seperti cara kami untuk menunjukkan seberapa akrab kami sebetulnya. Dan sebetulnya karena ada hal lain. Aku menyukai Argya sejak pertama kali bertemu. Bukan hanya suka sebagai sahabat tapi ku pikir bukan cinta juga, saat pertama bertemu dengannya aku merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya, itu saja.
Selama beberapa waktu aku menjadi pendiam. Ada, sih murid pindahan tapi Cuma dari kelas 6-1. Amel namanya, tapi aku berusaha untuk tidak terlalu dekat dengannya, aku juga mengambil jarak dari Nila, Tari, Ambar, dan Ifa karena aku takut  kalau salah satu dari mereka juga harus pergi aku pasti akan sedih.
Tapi itu hanya bertahan sebentar. Dalam 3 bulan pertama kelas 6 aku sudah akrab dengan anak-anak kelas 6-1, apalagi cowoknya. Aku dan teman-temanku sering bersama mereka, entah itu di kantin, lorong depan kelas, atau di lapangan bermain basket saat jam pulang sekolah. Aku juga sudah cukup dekat dengan Tomi dan sesuai dugaanku dia memang selevel dengan Argya dalam hal jahilnya. Tidak jarang kami saling berkejaran karena kejahilannya. Dan saat itu aku tidak tau kalau hal ini akan berakibat cukup fatal terhadap hubungan kami semua.
***
Dan tibalah hari itu. Hari yang mengubah segalanya.
Hari itu, sekitar pertengahan semester 2 beberapa waktu sebelum musim ujian akhir aku lagi-lagi sedang berkejaran dengan Tomi. Kali ini lintasannya dari depan kelas 6-2 sampai ke tengah lapangan basket. Teman-teman kami melihat dari lantai 2, entah yang cewek dan yang cowok bahkan ada beberapa adik kelas yang melihat. Tapi ada satu hal yang kami tidak tau. Wali kelas 6-2, yaitu wali kelasku juga ada disana.
Kami berdua kembali ke lantai sambil tertawa tapi begitu sampai di kelas masing-masing wali kelasku membuatku berhenti tertawa saat itu juga.
“Gina, kamu sama teman-teman kamu pulang sekolah nanti tinggal dulu sebentar, ya. Ibu mau bicara dengan kalian” katanya datar.
Saat itu perasaanku tidak enak dan memang terbukti. Hari itu, untuk kedua kalinya aku kehilangan  teman bertengkarku.
 ***
Pulang sekolah hari itu, aku memang tinggal di sekolah lebih lama bahkan setelah ceramah panjang wali kelasku selesai, tapi hari itu aku tidak tinggal untuk bermain basket. Sepanjang siang aku menangis sambil terus meminta maaf padateman-temanku. Meski ceramah hari itu panjang intinya cukup singkat sebetulnya. Wali kelasku ingin aku berhenti bergaul dengan anak-anak kelas 6-1. Dia tidak suka melihatku terlalu dekat dengan mereka, apalagi cowoknya, katanya karena aku dan teman-temanku adalah perempuan dan kami pasti mengerti apa yang dia maksud.
“Gin, udah. Nggak usah nangis lagi. Untung Argya udah nggak ada, kalau ada kamu pasti bakal diledekin habis-habisan” kata Nila yang mencoba menghiburku.
“Gimana nggak nangis? Ini salahku. Karena aku kalian jadi tidak bisa dekat lagi dengan anak-anak kelas 6-1” dan sampai beberapa saat kemudian aku menangi sambil memandangi anak-anak kelas 6-1 di tempat kami biasa berkumpul. Hari itu juga wali kelasku memanggil mereka sehingga mereka juga tidak berusaha untuk berbaur dengan kami mulai hari itu.
***
Waktu berlalu, begitu juga bermacam-macam ujian akhir yang harus kami lewati untuk bisa lulus dari SD. Dalam mimpi ini, bahkan dalam keadaan sadar sekalipun aku mengingatnya. Aku menangis pada hari kelulusan kami. Dan hal lain yang membuatku cukup sedih adalah kenyataan kalau Tomi harus melanjutkan SMP-nya di kota lain karena mengikuti ayahnya yang juga berpindah pekerjaan. Alasan yang sama dengan saat kepergian Argya setahun yang lalu. Sampai awal SMP kadang-kadang kami masih SMS-an tetapi setelah itu hilang kontak sama sekali. Dan saat itu juga aku terbangun, dan aku mendapati ada beberapa jejak air mata di kelopak mataku. Saat itu juga aku berpikir, kenapa aku memimpikan hal ini? Dan aku menemukan jawabannya seminggu kemudian.
***
Jakarta, juli 2010
Seminggu kemudian aku menjadi siswi SMA, hari itu aku mengikuti pra MOS tanpa melihat seorang pun teman SMP-ku di gugus yang sama denganku. Rata-rata mereka di gugus 1 atau 2 sehingga aku sendirian di gugus 4.
Setelah selesai baris menurut gugus dan melakukan kegiatan pra MOS hari itu yaitu bersih-bersih sekolah, akhirnya aku bisa istirahat juga. Kami berkumpul per gugus untuk bisa saling mengenal teman gugus dan juga kakak-kakak panitia yang bertanggung jawab atas gugus kami. Ku lihat bagian tempat anak perempuan gugusku duduk sudah cukup penuh sehingga aku hanya berdiri di dekat sebuah pilar yang membatasiku dengan seorang anak cowok. Dan dia mengajakku bicara.
“Kenapa Cuma  berdiri di situ? Duduk aja disini, nggak apa-apa, kok” katanya.
Akhirnya aku duduk dengan hanya dibatasi sebuah pilar antara aku dan dia.
“Kok kamu diam aja? Jangan-jangan kamu udah lupa sama aku? Baru juga 3 tahun kamu udah lupa sama aku. Kamu Gina, kan? Ini aku, Tomi, teman SD kamu anak kelas 6-1 dulu” lanjutnya.
Dan saat itu aku menatapnya sebentar dan mendadak heboh lagi dengannya, hahaha. Kami bercerita tentang apa yang terjadi selama 3 tahun terakhir dan kali ini tanpa khawatir akan di marahi oleh wali kelasku.
Yap, ku harap pertemuan kembali ini akan menjadi awal dari cerita yang berbeda dan akan jauh lebih baik dari cerita kami sebelumnya.
-         END -