iya, gue tau telat banget kalau baru nge-post soal ini sekarang, tapi mau gimana lagi baru balik dari kerja rodi dan baru ketemu sama si Lappy ini T-T sooo sebetulnya nggak ada yang bisa gue ceritain soal malem tahun baruan gue, gue cuma bisa bilang jam 10 gue udah lengket di kasur, iya emang ngenes, udah single nggak malam tahun baruan pula, tapi mau gimana lagi? Siangnya keasikan main Rune Factory, sih (lagi-lagi ini), oh well cuma berharap yang terbaik aja buat 2013 ini, lulus ujian-ujian sekolahan yang SUPER merepotkan dengan mulus, urusan naik pangkat dari single menjadi ganda campuran itu belakangan aja nggak wajib kok jadi nggak usah dipikirin. Anyway, HAPPY NEW YEAR!!!! just wish for the best ajalah untuk setahun ke depan ini.
Greetings from Dreamland :)
Sunday, January 6, 2013
Monday, November 26, 2012
Pertemuan Terakhir (alternate version)
Namanya Andy, dia baru saja menginjak usia 18 tahun,
dia memiliki seorang kekasih bernama Annet yang berusia setahun lebih muda
darinya. Mereka bersekolah di sekolah yang berbeda, tetapi di luar jam sekolah
mereka selalu bersama, apalagi rumah mereka berdekatan jadi mereka lebih mudah
untuk bertemu di luar jam sekolah. Tapi suatu hari mereka bertengkar hanya
karena sedikit salah paham hari itu.
“Net, maaf ya, hari ini aku tidak bisa mengantar dan
menjemput kamu hari ini” kata Andy melalui telepon pagi itu.
“Iya, tidak apa-apa , aku bisa minta tolong mamaku,
kok” jawab Annt.
Hari itu, Andy sibuk mengurusi sepupunya yang baru
dating dari luar kota dan ingin melanjutkan sekolahnya di kota ini. Sore itu,
Andy pergi ke sebuah mall dengan sepupunya itu, tapi tanpa di sangka, Annet
juga ada di sana bersama teman-temannya, Andy melihat Annet dan baru saja
berniat untuk memanggil Annet, tetapi Annet sudah pergi dan Andy mengejarnya.
“Annet, tunggu dulu! Aku akan jelaskan semuanya!” kata
Andy, tapi Annet terus berjalan dengan cepat dan meninggalkan Andy yang masih
terus memanggil namanya.
Keesokan harinya, Andy mengajak Annet untuk bicara
dengannya dan juga untuk memperkenalkan sepupunya kepada Annet, setelah satu
jam menunggu akhirnya Annet dating juga.
“Net, akhirnya kamu dating juga, kenalin ini sepupu
aku yang kamu lihat kemarin namanya Shila, dia baru pindah ke sini kemarin”
jelas Andy, lalu Annet dan Shila bersalaman dan memperkenalkan diri mereka
masing-masing, lalu Andy dan Annet akhirnya berbaikan.
Suatu hari, Annet mengajak Andy untuk bertemu
dengannya, tapi karena ada urusan Andy datang agak terlambat dan betapa
terkejutnya dia saat dia menemukan Annet yang sudah pingsan dengan darah yang
terus mengalir dari hidungnya, tanpa pikir panjang Andy membawa Annet ke rumah
sakit.
Sete;ah setengah jam, mama Annet dating, lalu Andy
berpamitan untuk pulang, tapi tak di sangka Andy mengalami kecelakaan yang
membuatnya buta, padahal dia sudah berjanji untuk menemani Annet di rumah sakit
keesokan harinya.
Keesokan paginya, mama Annet member tahu Annet yang
baru saja sadar bahwa Andy kecelakaan dan di rawat di rumah sakit yang sama
dengan Annet.
“Yang benar, ma?” kata Annet tidak percaya. Padahal
seandainya Andy datang menjaga Annet hari ini, dia ingin mengaku padanya kalau sebetulnya
dia mengidap kanker otak yang menyebabkannya sering mimisan dan pingsan
akhir-akhir ini.
“Ma, Annet mau di operasi secepatnya biarpun
kemungkinannya tipis. Tapi Annet ada permintaan, kalau memang operasinya gagal,
Annet mau mama kasih mataku ke Andy biar dia bisa melihat lagi” pinta Annet.
Mama Annet mendengarkan permintaan anaknya itu dan
menyanggupinya, tapi setelah itu keadaan Annet memburuk jadi dia harus di
operasi saat itu juga, tapi saying Tuhan berkehendak lain, operasinya gagal dan
Annet meninggal.
Sehari setelah kepergian Annet, Andy yang baru sadar
merasa aneh karena dia bisa melihat lagi, tapi dokter menjelaskan padanya bahwa
Annet memberikan matanya untuk Andy dan dia bersumpah akan menjaga mata yang
diberikan Annet untuknya itu dengan baik, karena biarpun Annet sudah tidak ada
tapi masih ada bagian diri Annet yang dimilikinya.
Author's Note 2
Soooo gue abis dapet tugas buat bikin cerpen, dan idenya gue dapet dari cerita yang di post Annet di blog dia beberapa bulan lalu, atas permintaan dia gue ada rencana buat nge-post cerita itu di sini, biarpun jujur aja, ya, ceritanya terkesan ngasal dan dikebut tapi karena dia penasaran ya udah bakal gue post, suka ga suka terima aja ya :D
Friday, November 16, 2012
Traveler of The Time part 3
Saat
kembali ke waktuku aku kembali ke kelasku yang sudah kosong untuk mengambil
tasku, lalu ke asrama, di depan pintuku sudah ada Lea dan Annet yang menungguku
dengan muka kesal dan juga khawatir, pasti karena aku pergi tanpa memberi tahu
mereka.
“Kamu dari
mana? Tadi aku cariin kamu di kelas tapi yang ada cuma tas kamu, aku tanya Rei
kamu ke mana dia juga nggak tahu, kita kepikiran sama kamu tahu” kata Annet.
“Kita
nyadar kita salah, ninggalin kamu sendirian kayak gitu, tapi bukan berarti kamu
harus kayak gini, kan? Seenggaknya telpon kek, SMS kek, terserah, asal jangan
bikin kita khawatir soal kamu” timpal Lea.
“Aku... “
baru saja aku mau menjawab mereka, handphone-ku bergetar, saat ku keluarkan
benda itu dari kantongku, setelah melihat SMS yang baru di kirimkan untukku itu
entah kenapa aku langsung tersenyum.
“Nanti aja
jelasinnya, aku lupa udah ada janji penting hari ini, nih ambil kunci kamarku,
sekalian simpenin tasku, ya”kataku lalu berlari turun ke luar asrama menuju “tempat
itu”.
Aku mencari
dia di antara banyak murid lain yang memenuhi kantin sore itu, dan menemukannya
di kursi yang terletak di tengah kantin, dia lalu berdiri menghampiriku dan
menarikku keluar ke tempat yang lebih sepi.
“Kenapa? Ada
apa hari ini kamu memutuskan untuk bicara denganku?” tanyaku setenang mungkin
setelah 5 menit tidak seorangpun dari kami yang bicara, biarpun aku cukup panik
juga karena aku tahu apa yang ingin dia bicarakan hari ini.
Bukannya
menjawab pertanyaanku, dia malah memelukku erat, lalu dia berbisik di kupingku.
“Maaf,
nggak seharusnya aku bertingkah kayak gini, selalu cari ribut sama kamu,
berusaha untuk menang dalam hal apapun dari kamu, tapi itu semua aku lakukan
supaya aku bisa masuk dalam pandangan matamu biarpun cuma sedikit” dia
membisikkan kata-kata itu dengan begitu pelan dan lembut sangat berbeda dengan
dia yang ku kenal selama 10 tahun terakhir ini.
“Aku nggak
tahu ini benar atau nggak, tapi aku rasa aku suka sama kamu, aku bukan baru
menyadarinya sekarang, aku menyadarinya sejak dulu, tapi aku acuhkan perasaan
itu karena aku tahu kamu akan menolakku, tapi semakin lama semakin banyak orang
yang mendekatimu, aku nggak suka, makanya hari ini aku memutuskan untuk
mengatakan semuanya, nggak kamu jawab juga nggak apa-apa, keputusan tetap di
kamu, biarpun aku tetap berharap kamu mau jadi pacarku” lanjutnya lagi, lalu
aku balas memeluknya juga.
“Kamu mau
tahu alasan kenapa aku ladenin semua ejekan dan tantangan kamu selama ini?”
tanyaku balik berbisik kepadanya, “Itu juga karena aku suka sama kamu, dan kamu
tahu, nggak? Kalau aku punya kekuatan untuk bisa menjelajahi waktu?” tanyaku.
Dia
menggeleng.
“Tadi,
setelah kamu menahanku di kelas, aku pergi untuk melihat masa depanku 3 tahun
dari sekarang, dan kamu tahu? Aku melihat aku dan kamu sudah menjadi kita”
kataku sambil tersenyum.
“Maksud
kamu?” tanyanya tidak mengerti.
“Itu
artinya, kalau sampai bisa selama itu artinya kita akan baik-baik saja dan bisa
bertahan lebih dari itu, dan artinya aku nggak keberatan pacaran sama kamu. Lagian...”
kataku menggantung kata-kataku.
“Lagian
apa?” tanya Rei penasaran.
Aku
membisikkan jawabanku lalu lari kembali ke asramaku untuk menceritakan ini
semua ke Annet dan Lea.
Mau tahu
apa yang ku bisikkan ke dia?
“Lagian aku
juga suka sama kamu, selama ini sifat galakku itu cuma sekedar buat nutupin
perasaan aku biar kamu nggak tahu hehehe....”
Dan bukan
hanya 3 tahun dari sekarang, aku yakin saat aku mengunjungi masa depan nanti
entah itu 10, 20, atau bahkan 50 tahun setelah ini, kamu akan selalu bersamaku.
THE
END
Traveler of The Time part 2
Istirahat siang
ini, aku sendirian di kelas, nggak benar-benar sendirian, sih ada beberapa
orang di kelas dan Rei adalah salah satu dari orang-orang itu, aku membaca
novel yang baru kubeli beberapa hari yang lalu sambil mendengarkan lagu dari
mp3 player-ku. Kedua sahabatku sedang sibuk dengan pacar mereka, pacar Annet
namanya Choky, anak kelas 3 dan wakil ketua OSIS SMA kami, dan pacar Lea
namanya Valkrye, alumni sekolah ini yang sekarang sudah kuliah di luar kota,
intinya disini tinggal aku sendiri yang single.
Karena
penasaran dengan kata-kata Lea beberapa hari yang lalu, dan nggak ada kerjaan,
belum lagi kenyataan kalau setelah ini adalah free class aku memutuskan untuk
pergi ke masa depan dan melihat siapa pacarku, dan kalau biasanya aku kasih
tahu mereka berdua sebelum aku pergi, kali ini berbeda, aku akan langsung pergi
dan kalau ada apa-apa baru aku akan menceritakannya nanti pada mereka.
“Kamu mau
kemana?” tanya Rei sambil memegang tanganku.
“Kenapa
kamu mau tahu? Kamu bukan siapa-siapa aku” kataku sinis lalu menepis tangannya.
“Terserah
kamu mau bilang apa, tapi pokoknya hari ini juga pulang sekolah aku mau ngomong
sama kamu” katanya sambil menunduk dan dengan suara yang lebih kecil dari
sebelumnya.
“Ya udah
nanti pulang sekolah kamu bisa ngomong sama aku, tapi sekarang kamu lepasin aku
dulu, aku ada urusan” kataku, lalu meninggalkan Rei sendirian di sana.
Aku lalu
pergi untuk mencari tempat dimana tidak ada orang yang bisa melihatku, aku menutup
mataku, memfokuskan pikiran dan saat aku kembali membuka mataku aku sudah
berada di masa depan. Dari mana aku tahu? Karena sekarang aku sudah berada di
luar sekolah, dan sekelilingku berubah, yang perlu aku ketahui sekarang adalah
di tahun berapa aku berada sekarang?
Tepat saat
aku melewati sebuah toko elektronik, TV yang mereka pajang sedang menayangkan acara
berita yang sangat ku butuhkan saat ini.
“Selamat
sore pemirsa, kembali lagi bersama kami hari ini, Senin 7 Juli 2014”
“Jadi kali
ini aku pergi ke masa 3 tahun mendatang, dan kenapa bisa tepat di hari ulang
tahunku? Ada apa dengan hari ini?” pikirku.
Aku
memperhatikan sekelilingku dan berjalan beberapa meter sampai akhirnya aku
menemukan diriku yang di waktu ini berumur 19 tahun sedang berjalan sendirian,
dan dengan susah payah membawa setumpuk map yang sepertinya adalah tugas
kuliahnya, lalu ku lihat dia memasuki sebuah cafe, aku lalu mengikutinya masuk
ke cafe itu.
Dia lalu
menduduki sebuah kursi kosong untuk empat orang yang berada di pojok ruangan
lalu aku duduk di kursi yang terletak pas di belakangnya, sepertinya dia ada
janji dengan seseorang di sini, setelah memesan sesuatu ke pelayan yang
menghampiri mejaku aku terus memperhatikan aku yang satu lagi yang sedang sibuk
dengan map yang di bawanya tadi.
“Eh, Vega,
udah lama nunggunya? Sorry, tadi kerjaanku banyak banget, jadinya telat, deh”
kata seseorang yang datang menghampiri mejaku yang satu lagi.
“Nggak kok,
Net, aku juga baru sampai, kok. Biasa urusan kampus sama kerjaan juga, padahal,
kan aku yang manggil kalian ke sini” katanya.
“Aku juga
gitu kali, tapi kamu hebat, deh sambil kuliah sambil kerja sampingan di majalah
itu pasti sibuk banget” kata orang yang sepertinya adalah Annet itu.
“Nggak
juga, kali. Eh, ngomong-ngomong Lea mana, nih? Lama amat sampainya, masa dia
nyasar, sih? Nggak lucu, ah kita kan sering ke sini masa dia masih nyasar, sih?”
kataku yang satu lagi sambil meminum oreo shake yang baru di antarkan oleh
pelayan.
“Nggak tahu,
deh, paling sibuk pacaran sampai lupa sama kita, oh, iya happy birthday Vega! Ciyeeeee
yang tambah tua, terus gimana kamu sama dia? Dia udah ngucapin happy birthday
ke kamu? Dapat kado apa dari dia?” tanya Annet bertubi-tubi.
“Nyantai
aja kali tanyanya satu-satu, nggak sabaran amat” kataku yang satu lagi, saat
dia baru mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan Annet pintu cafe terbuka dan
orang yang baru masuk itu langsung mengarah ke meja yang di tempati aku yang
satu lagi dan Annet dan langsung heboh, kalau yang satu ini aku tahu, orang ini
pasti Lea.
“Vegaaaaa
happy birthday! Hari ini aku boleh pesen apa aja, kan? Kan kamu ulang tahun,
tadi kan baru gajian juga, jadi boleh, ya?” kata Lea sambil memeluk aku yang
satu lagi.
“Terserah
kamu lah, Le” jawabku yang satu lagi.
“Vega kamu
belom jawab pertanyaanku yang tadi” kata Annet tidak sabaran.
“Apaan? Ikutan
dong” kata Lea yang sudah duduk di kursi sebelah Annet.
“Iya dia
udah bilang kok, tadi pas jam 12 malam dia ngebangunin aku lewat telpon, nyanyi
lagu Happy Birthday To You, tapi belom kasih kado apa-apa habis seharian belom
ketemu, terus....” katanya menggantung kata-katanya.
“Apaan? Terus
apa? Bilang dong, ingat nggak boleh ada rahasia-rahasiaan di antara kita” kata
Annet mengingatkan.
“Dia bilang
dia sayang sama aku” kata aku yang satu lagi dengan suara yang kecil tapi tetap
bisa kudengar karena aku duduk di belakangnya.
“Perasaan
setiap hari nggak pagi, siang, malam dia selalu bilang ke kamu kalau dia
sayang, deh sama kamu, lagian kalian udah 3 tahun pacaran, masa kamu tetap nggak terbiasa dengar dia
bilang sayang sama kamu. ” kata Lea yang langsung bisa menyesuaikan diri dalam
pembicaraan ini, “Terus sekarang dianya mana?”
“Dia masih
sibuk di kampus, tapi katanya dia bakal usahain buat ke sini, kok” jawab aku
yang satu lagi.
“3 tahun?
Artinya aku mendapatkan pacarku sekitar waktu asalku, tapi siapa?” pikirku.
“Eh, iya
kalian sendiri gimana dengan pacar kalian? Apalagi kamu Lea, lagi nggak
ngambek, kan sama Valkrye?” tanyaku yang satu lagi.
“Untuk saat
ini, sih iya lagi adem adem aja, tadi dia, kok yang nganterin aku ke sini” kata
Lea sambil senyum-senyum genit, “Kamu gimana, Net?”
“Nggak
tahu, nih. Choky sibuk terus, terakhir ketemu bulan lalu, telpon cuma
sekali-sekali, tapi SMS masih setiap hari, sih” jawab Annet dengan muka
cemberut.
Lalu pintu
cafe terbuka lagi, dan kali ini aku sangat kaget. “Orang itu.... masa, sih? Yang
bener aja!” teriakku dalam hati.
“Sorry
telat, dosennya nyebelin banget masa pulanginnya sampai ngaret 30 menit, sih”
kata orang yang baru datang itu lalu duduk di sebelah aku yang satunya lagi,
satu-satunya kursi kosong di situ.
“Nggak
apa-apa kali, Rei. Kita juga tadi datengnya pada ngaret, kok hehehe...” kataku
yang satu lagi.
“Tuh, kan. Benar
dia... artinya di waktu asalku dalam waktu dekat dia akan...” pikirku, “Mungkin
sebaiknya aku tinggal beberapa lama lagi baru pulang ke waktuku”
“Oh, iya
happy birthday, ya cerewet, nih ambil kadonya” kata Rei sambil mencubit pipiku
yang satu lagi lalu menaruh sebuah kotak di pangkuannya.
“Ih, apaan,
sih, bego. Kamu juga happy birthday, ya” balas aku yang satu lagi sambil
tersenyum, dia terlihat sangat senang.
“Ehem, misi
mas, mbak, di sini ada orang lain juga, jadi jangan menganggap dunia ini isinya
cuma kalian aja” kata Lea mengganggu mereka dan membuat mereka berempat
tertawa.
“Sorry,
jadi keasyikan, nih, hehehe... Kadonya boleh ku buka?” kataku yang satu lagi.
“Terserah,
suka nggak suka, pokoknya nggak boleh di balikin” kata Rei dengan cueknya, sama
sekali tidak berubah.
Aku melirik
ke belakang untuk melihat kado apa yang di berikan Rei untukku yang satu lagi,
dan sangat kaget saat melihatnya.
“Heh? Seriusan,
nih? Terus? Terus? Cuma ini aja?” tanyaku yang satu lagi.
“Apaan? Kamu
berharap aku berlutut di depan kamu terus ngasih kamu cincin ini sambil
ngucapin kata-kata romantis terus ngelamar kamu, gitu? Kuliah kamu gimana
cerewet?” kata Rei yang sekarang mukanya sudah merah karena malu.
“Nggak,
sih, mungkin iya sedikit, tapi apa nggak kecepetan ngasih ini?” tanyaku yang
satu lagi.
“Nggak,
lah, itu buat tanda kalau kamu udah “reserved”, dan kalau nanti udah sampai
waktunya, kamu terima, ya, tapi jangan berharap aku bakal ngucapin kata-kata
gombal kayak di film-film, okay?”kata Rei sambil mengacak-acak rambutku yang
satu lagi.
“Ciyeeee....
asik nih, ye, kalau udah sampai waktunya kita berdua harus yang paling pertama
dapat undangan, dong, iya kan?” kata Lea.
“Pastilah,
lagian kalau dulu kita nggak bikin Vega nyadar sama perasaannya sendiri, pasti
sekarang bakal beda ceritanya” timpal Annet.
Dan
lagi-lagi mereka berempat tertawa, membuat cafe ini menjadi tambah ramai,
beberapa pasang mata dari meja lain bahkan sempat terlihat bingung melihat
mereka.
“Sepertinya
aku sudah cukup melihat ini semua” pikirku, aku lalu membayar pesananku di
kasir, keluar dari cafe lalu, kembali memfokuskan pikiranku dan pulang ke
waktuku.
Traveler of The Time part 1
Setiap
orang baru akan menyesali perbuatannya di saat semuanya sudah terlambat dan
terus berharap mereka memiliki mesin waktu atau kekuatan untuk memutar balik
waktu, tapi aku bukan salah satu dari orang-orang itu, karena tanpa di mintapun
aku memiliki sebuah kekuatan untuk bisa pergi menjelajahi waktu dan membuatku
bisa memperbaiki kesalahanku di masa lalu dan menghindari kejadian buruk yang
akan menimpaku di masa depan.
Namaku Vega
Asteria, umurku 16 tahun, aku seorang siswi kelas 2 SMA di sebuah sekolah
swasta bernama Rocketport Academy yang terdiri dari TK sampai perguruan tinggi
yang mengharuskan muridnya untuk tinggal di asrama. Orang tuaku sibuk bekerja
di luar negeri dan aku sangat jarang bertemu dengan mereka, berbeda dengan
anak-anak asrama lain yang akan pulang ke rumah mereka setiap akhir pekan atau
saat liburan panjang, aku biasanya tetap tinggal di asrama, kenapa? Karena biar
pulang ke rumah juga tidak akan ada siapa-siapa di sana.
Tapi aku
tidak pernah merasa kesepian, aku punya banyak teman di sini, dan aku tidak
pernah merindukan orang tuaku, karena dengan kekuatanku, aku tahu kapan mereka
akan kembali meskipun mereka tidak mengabariku sebelumnya dan saat itulah baru
kukeluarkan rasa rinduku pada mereka.
Di sekolah
ini aku punya dua orang sahabat yang selalu bersamaku sejak pertama kali masuk
ke sekolah ini yaitu Anneta Diandra Letya atau Annet dan Aurelia Leandra Raina atau
Lea. Aku juga punya mu... eh salah, lebih tepatnya rivalku, sih, namanya
Raymond Altaire atau yang biasa di panggil Rei, dia juga selalu sekelas
denganku sejak SD dulu bahkan setelah ada penjurusan di SMA kami tetap saja
sekelas, kami selalu bersaing dalam hal apapun, akademik dan non akademik,
bahkan kami sering bertanding main game sampai tengah malam saat akhir pekan,
orang-orang di sekitar kami bahkan banyak yang mengira kami pacaran yang tentu
saja kami bantah,
“Nggak
mungkin aku mau pacaran sama orang kayak dia!”, kata-kata itulah yang selalu
keluar dari mulut kami setiap kali ada yang menanyakan apakah aku pacaran
dengan Rei atau tidak.
Kembali
lagi membahas kekuatan “spesial”ku yang hanya di ketahui olehku dan dua
sahabatku, saat sedang tidak ada kerjaan aku akan melakukan perjalanan ke masa
depan, melihat kapan orang tuaku akan kembali, lalu menandainya di kalender,
dan saat hari yang di tentukan tiba aku akan pulang ke rumahku dan tinggal
bersama orang tuaku dan saat mereka pergi lagi aku akan kembali ke asrama atau
terkadang aku melihat soal-soal yang akan di keluarkan saat ulangan supaya aku
bisa tahu pasti apa yang harus ku pelajari, atau kembali ke masa lalu untuk
mengingatkan diriku sendiri kalau aku melupakan sesuatu.
“Kenapa,
sih kamu nggak pernah coba buat ngeliat siapa pacar kamu di masa depan nanti? Emang
kamu nggak pernah penasaran?” tanya Lea suatu hari saat kami sedang berkumpul di
kamarku.
“Yeee....
biar nggak pergi lihat kita yang nggak punya kelebihan gitu juga bisa tahu,
kali, gimana, sih” kata Annet sambil menyikut Lea.
“Maksud
kalian?” tanyaku berlagak sok bego.
“Itu tuh,
yang di kelas duduknya pas di belakang kamu siapa lagi namanya?” kata Lea yang
terlihat sok-sok mengingat orang yang dia maksud.
“Oh, dia...
yang huruf depannya R itu, kan? Siapa lagi namanya?” kata Annet.
“Kalau mau
frontal mending jangan disini, pulang sana, nanti pacar kalian pada nyariin
lagi” kataku jutek.
“Ciyeeee...
ngambek, mau di bujukin nggak?” goda Lea.
“Aku punya,
nih nomornya, mau aku telponin? Atau perlu aku lari ke asrama cowok sekarang
dan nyeret dia dari depan game-nya?” kata Annet sambil mengeluarkan handphone-nya.
Sedetik
setelah itu mereka sudah ku usir keluar dari kamarku.
Subscribe to:
Posts (Atom)